Sajak untuk Seorang yang Hatinya Sedang Tumbuh Gigi Bungsu

Kau adalah sekumpulan nomor-nomor pada halaman buku favoritku. Mimpi yang belum sempat aku tuntaskan, terlanjur hilang oleh dengkuran bulan sabit merah jambu. Kado natal yang belum aku terima– lebih tepatnya belum pernah aku buka. Seorang anak kecil merengek meminta kado kepada ibunya dan aku terpaksa melempar senyum kepada anak yang garis matanya persis milikmu.

Sebaris doa yang aku umbar kepada para pendeta, entah kepada siapa aku berdoa. Mereka mentertawai isi doa-doa yang semua isinya hampir ditulisi aroma tubuhmu. Jawaban yang belum sempat aku tulis pada lembar ujian matematika. Entah karena waktu yang tak bisa menerima, atau aku yang terlalu lama merapal rumus-rumus lesung pipimu.

Nama latin dari bunga-bunga yang tak sanggup aku hafal pada pelajaran biologi dulu. Lagu yang pernah kita nyanyikan dengan nada kesunyian. Artefak pada museum yang belum pernah aku kunjungi.

Kau adalah kata yang tak sempat aku ucap ketika kita berkenalan. Seutas perpisahan yang belum sempat aku katakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *